Selasa, 18 April 2017

TUHAN SEKALIAN ALAM



Apa yang meliputi langit dan bumi ??

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)

”Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Kursi Allah itu bermaksud ke EsaanNya, Asma, Sifat Afal Dzat dan pentadbirannya.

Maka dari situ dapat disimpulkan kekuatan ayat ini tentang Allah adalah melampaui dari pemikiran, pendapat, ilmu atau apa juga sangkaan makhluk.

Oleh itu, berhati-hatilah kita menyimpulkan tentang Allah kerna tanpa sedar boleh mengundang kepada kesyirikan..

i ) Syirik secara dzat - apabila meyakini bahwa dzat Allah adalah seperti dzat makhluknya.

ii) Syirik secara sifat - apabila meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah.

Allah itu merupakan nama bagi Dzat (Ismu Dzat) ketuhanan dari segi Kemutlakan Nama Itu Sendiri. Ia Bukan merujuk kepada sosok atau sifat-sifatnya.

Dengan menyebut Asma Allah, bererti nama-nama Allah ini menunjukkan keistimewaannya yang berada di atas sifat-sifat dan Dzat Allah Taala. Sedangkan wujud Asma itu  sendiri menunjukkan arahnya sementara kenyataan Asma itu menunjukkan ketunggalanNya

Dzat itu sendiri tersembunyikan oleh Sifat. Sifat pula tersembunyikan oleh Af'al. Manakala Af'al pula tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.

Oleh sebab itu sesiapapun yang meraih tajallinya Af'al Allah dengan sirnanya jagad raya, maka ia akan tawakkal. Bagi yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af'al, ia akan redho dan pasrah.

Ahad, 26 Mac 2017

Kenapa Kita di ciptakan




Dan tidaklah Aku telah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. – Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
Perhatikan ini :

 kata “ya’bud” di sana biasanya hanya diterjemahkan sebagai “untuk beribadah”, dalam pengertian untuk melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan semacamnya. Tujuan penciptaan kita seakan-akan hanya untuk melakukan ibadah ritual formal. Dengan memahami makna kata “ya’bud” hanya seperti ini, maka pada akhirnya tujuan hidup manusia dipahami hanya sebatas untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dalam rangka seleksi untuk memasuki surga atau neraka saja.

kata “ya’bud” di sana berasal dari kata ‘abid, kata benda yang bermakna hamba, budak, atau seorang abdi. Ya’bud, kata kerja, bermakna “menjadikan diri sebagai hamba”, atau tepatnya adalah “mengabdi”. Itulah tujuan penciptaan kita: untuk melaksanakan sebuah pengabdian—bukan sekadar untuk beribadah

Jadi kita bertanya: Adakah melaksanakan pengabdian yaitu mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah ?? Jawabnya : Ya. Jangan persoalkan yang lain. Cukup dengan jawabnya Ya bagi soalan itu, Insyaallah selamat kita.

Mengabdi, dalam jajaran pengertian yang paling luar dan paling sederhana, bagi umat Rasulullah Muhammad SAW adalah melakukan apa saja yang diperintahkan dalam wilayah syariat yang dibawa oleh Beliau. Kita melakukan shalat, puasa, zakat dan semacamnya—kita “beribadah”. Namun, dalam jajaran yang lebih dalam, yang dimaksud “ya’bud” (mengabdi) di sini bukan semata-mata sekadar ritual ibadah formal.

Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan bagimu. – Q.S. An-Nahl [16]: 69

Tiap-tiap diri”, sabda Rasulullah SAW. Spesifik. Setiap orang. Dengan mengetahui fungsi spesifik kita masing-masing, maka kita mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang paling hakiki, yang sesungguhnya, yang sesuai dengan fungsi kita diciptakan. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan ada di dalam keadaan saat ia berenang di dalam air. Masing-masing kita pun memiliki cara pengabdian yang spesifik, jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan-Nya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ ﴿٤١﴾

"Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."

(Q.S.24:41)

Perjalanan hidup kita ini adalah telah diatur dengan cukup rapi...

Sejak awal sekali, Allah telah mempersiapkan nature kita demi sebuah fungsi. Kita dipersiapkan untuk mudah melakukan bidang-bidang tertentu. Kita diberi-Nya semangat tinggi, kemampuan dan kemudahan, dalam bidang-bidang tertentu.

Kelak, dengan semakin terbukanya qalb kita dan semakin tertuntun pula oleh petunjuk-petunjuk-Nya, Dia akan membuka pada kita sebuah amanah ilahiah, yang dahulu kala, sebelum alam semesta diciptakan-Nya, telah Dia sematkan ke dalam dada jiwa kita masing-masing. Ada sebuah amanah, sebuah misi, yang harus kita temukan dan tunaikan di masa hidup kita.

Khamis, 23 Mac 2017

Dua kalimah Syahadah



Mengucap Dua Kalimah syahadah adalah salah satu rukun yang menunjukkan/membuktikan bahawa seseorang itu adalah Muslim/ Islam. Pengesahan seorang yang bukan Islam, kemudian menjadi Islam adalah dengan ucapan kalimah ini. Tapi sedarkah atau tahukah kita hakikat disebalik kalimah ini ??

Sebelum itu, kenapa dipanggil dua kalimah syahadah??? Ya kerna terdapat 2 ungkapan/atau kalimah di situ. Mari kita lihat di bawah :

أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَــــهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Aku bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah.


Syahadat pertama : ( أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ) : Aku bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, disebut sebagai Syahadat Tauhid ; dan Syahadat kedua : ( ( وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ : Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah, disebut sebagai Syahadat Risalah. Jika seseorang hanya mengucap Syahadat Pertama, tetapi enggan mengucap Syahadat Kedua, maka dia belum layak dikatakan muslim atau muslimat. Sebab Ahli Kitab, sama ada Yahudi atau Nasrani juga percaya bahawa Allah tuhan mereka, tetapi mereka tetap kafir kerana enggan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang terakhir.

Penyaksian dan pengucapan dua kalimah syahadat sebenarnya adalah Muhammad mengaku Allah sebagai Tuhan, dan Pengesahan Allah kepada Muhammad sebagai Rasul, Pengakuan dan penyaksian ini berlaku didalam diri kita sendiri.

Syahadah adalah interfrestasi dari pertanyaan Allah di alam rahim atau alam syahadah. Allah berfirman terhadap jiwa ” Allastu Birabbikum ” maka jiwa itu menjawab ” Qolu balaa Syahidna ” yang artinya dalam bahasa kalian sebagai berikut ” Kenalkah engkau Aku Allah Tuhanmu? jiwa menjawab .. ” aku menyaksikan..

 Penyaksian pada tahap itu adalah penyaksiaan musyahadah.. karna sangat mustahil melihat ujud dari dzat Allah.. tetapi manusia mampu melihat wujud ahadiyah melalui segala ciptaan Nya.. ” tidak akan berwujud segala sesuatu.. jika bukan kerana wujud Allah ” Allah yang maujud atas segala yang maujud"..

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿١٧٢﴾

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)","

(Q.S.7:172)

Jadi jika ada orang persoalkan adakah kita ini bersyahadah buta kerana tidak menyaksi apa yg kita saksikan, maka jangan ragu, risau dan gentar, tapi yakinlah bahawa kita semua ini (umat manusia) pernah bersaksi dan menyaksi...malahan ingatlah juga yang kesaksian kita itu akan pula dipertanggungjawabkan pada hari kiamat kelak.

Wallahua'lam bissawab...

Ahad, 19 Mac 2017



JANGAN MELAMPAUI BATAS KE SADARAN MENGENAL


فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿٧٢﴾

Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya ruh dari (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya.
( QS.Saad 72 )

Ruh Allah  yang di maksud bukanlah Allah dan juga bukan nyawa yang menghidupkan Allah

Allah hidup dengan Zat-Nya, bukan dengan nyawa atau ruh dan bukan juga dengan sifat hidup.

Sifat hidup bergantung kepada Allah  tetapi Allah tidak bergantung kepada sifat hidup.

Ruh Allah sama halnya seperti Tangan Allah, Kalam Allah Pendengaran Allah dan lain-lain yang dinisbahkan kepada makhluk-Nya.

Semuanya bukanlah Allah tetapi adalah keadaan atau sifat atau misal atau ibarat yang memperkenalkan Diri-Nya sekadar layak Dia dikenali oleh makhluk-Nya.

Hakikat Diri-Nya yang Haqiqi tidak mampu disifatkan, diibaratkan atau dimisalkan kerana Dia adalah:

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ ﴿١١﴾

"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.
Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan pentadbiran)-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha melihat.  ( QS as-Syura: 11 )

Ahad, 12 Mac 2017

SYARIAT HAKIKI



SYARIAT HAKIKI


Perkara pokok yang perlu kita ketahui ialah iktikad ketuhanan. Jika rosak iktikad kita tentang ketuhanan, maka rosaklah segala amalan dan ibadat kita ditolak oleh Allah.

Justeru itu perlulah kita ketahui sedalam-dalam dan  secara terperinci tentang iktikad ketuhanan ini, dimana pada hari ini tidak diperbincangkan lagi dan tidak dititik beratkan lagi oleh sebahagian besar umat Islam terutama para cerdik pandai Islam pada zaman ini.

Kita rasa amat sedih sekali, kerana dewasa ini aspek-aspek ketuhanan ini telah diperingankan dan dianggap menyeleweng oleh sebahagian besar umat Islam terutama cerdik pandai Islam dimasa ini.  Jadi bagaimanakah pegangan kita tentang iktikad ketuhanan?

Setiap umat Islam dituntut supaya beriman kepada peraturan yang Tuhan telah tetapkan, mempelajarinya, mengamalkannya dan menyebarkannya sekadar kemampuan masing-masing. Hubungan kaum Muslimin dengan syariat Islam adalah percaya, mempelajari dan melaksanakan. Oleh kerana darjat zahir dan rohani manusia tidak serupa maka terdapatlah perbezaan tahap kepercayaan, pengetahuan dan kekuatan melaksanakannya.

Perbezaan tersebut menyebabkan umat Islam mudah bersepakat dalam perkara pokok, bertolak ansur pada perkara cabang dan tidak bersefahaman pada perkara ranting. Kegoncangan pada ranting tidak seharusnya menggoncangkan pokok perpaduan umat Islam. Perbezaan pada tumpuan pelaksanaan tidak seharusnya menyekat kerjasama sesama Muslim. Masalah khilafiah tidak seharusnya menjarakkan kumpulan yang berlainan mazhab.

Rasullallah saw bersabda; "Untuk mengetahui tentang ketuhanan wajiblah menuntut ilmu dan untuk menjalani sesuatu amalan atau ibadat wajiblah kita menuntut ilmu". Pepatah ulamak-ulamak dahulu ada berkata "Fardhu sebelum fardhu".  Menuntut ilmu itu fardhu ain pada setiap lelaki dan perempuan yang mukallaf, iaitu tiga ilmu yang wajib dituntut, iaitu

ILMU FEKAH
ILMU USULLUDIN @ TAUHID
ILMU TASAUF.

(Bersambung )

Jumaat, 3 Mac 2017

Bagaimanakah keadaan jiwa manusia setelah kematian jasad?



Bagaimanakah keadaan jiwa manusia setelah kematian jasad?

jiwa manusia tidak bergantung pada jasad.

Pandangan sebagian orang yang menentang keberadaan jiwa setelah kematian didasarkan atas dugaan bahwa jiwa
harus dibangkitkan setelah jasadnya menyatu dengan tanah.

Sesungguhnya kematian jasad sama sekali tidak mempengaruhi apalagi menghancurkan jiwa,

alquran menjelaskan “Jangan kamu
pikir orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak! Mereka hidup, bahagia dengan kehadiran Tuhan mereka dan dalam limpahan karunia.”

Tak ada sedikit pun rujukan syariat yang menyebutkan bahwa ruh orang yang telah mati, yang baik maupun jahat,
akan musnah.

Wallahualam

Isnin, 20 Februari 2017

PROGRAM PENTERNAKAN IKAN KELI/LELE KELUARGA SYARIAT HAKIKI



Alhamdulilah berkat rahmat dan iradatnya Insyaallah Komuniti Syariat Hakiki akan maju setapak lagi. Komuniti yang pada asalnya diwujudkan bagi membincangkan hal ehwal agama yang menjurus ke wilayah hakikat kini melebarkan sayap kearah pemantapan ekonomi ummah kepada ahli-ahlinya.

Dari kumpulan percambahan pendapat terhadap ilmu tauhid, kini telah dalam rangka pembangunan bagi projek penternakan ikan keli. Projek ini diharap menjadi pemangkin dalam mengeratkan lagi ukhwan di kalangan rakan komuniti. Projek yang datang dari cetusan idea ' Guru Besar ' Syari'at Hakiki ini bermatlamat bagi meningkatkan pendapatan rakan-rakan komuniti selain menginfakkan sebahagian kecil keuntungan kepada pembaikan pusat-pusat pengajian Islam seperti Masjid, Maahad, Pondok  dan lain-lain. Ini bagi memperoleh keberkatan dan dari sisi lain dapat membantu pengembangan Islam secara keseluruhannya di rantau nusantara.

Alhamdulillah perancangan ini telah dipermudahkan lagi dengan modal dan sokongan berterusan dari rakan-rakan komuniti yang hadir dari pelbagai latar belakang terutama usahawan, ahli perniagaan dan individu yang mahir dalam penternakan ikan keli itu sendiri.

Projek ini akan diusahakan di wilayah Cirebon di Indonesia dengan bantuan sahabat yang bermastautin di sana. Cirebon dipilih sebagai tempat perusahaan adalah kerana beberapa sebab  yang mana antara lain adalah ia sangat sesuai dari segi kos pengoperasian yang murah , tenaga mahir dari kalangan ahli dan pasaran yang agak luas.

Modal bagi rakan komuniti yang menyertainya adalah sangat kecil dan insyaalah tidak akan membebankan. Adalah dijangkakan keuntungan akan dapat diperoleh seawal 3 bulan dari tempoh pelepasan benih ikan di dalam kolam. Pada masa ini wakil dari Malaysia sedang melakukan penilaian terhadap lokasi-lokasi yang bersesuaian dengan bantuan koresponden di sana. Fasa yang seterusnya adalah menentukan modal yang perlu dikeluarkan hasil dari perancanagan pemulaan projek dan bagaimana pemantauan dan perkembangan semasa projek dapat dimaklumkan kepada kepada rakan- rakan komuniti Syari'at Hakiki.

Diharapkan agar usaha murni ini akan dipermudahkan Allah S.W.T dan dapat diperkembangkan lagi di masa hadapan.

Berjumpa lagi kalian dalam artikel seterusnya bagi memberi gambaran dan perkembangan semasa Projek Perusahaan/Penternakan ikan keli ini. Insyaallah.. Salam Alaik...

Sidang Pengarang
Wira Putih



Live Traffic

Copyright @ 2017 SYARI'AT HAKIKI .